Selasa, 16 Maret 2010
Cara Mengenali Potensi dari Multiple Intelegency
Setiap anak cerdas dan unik, hal ini harus benar-benar dipahami oleh orangtua dan pendidik. Walaupun seorang guru di Pra—Sekolah tidak dapat menggantikan peran orangtua sebagai penanggung jawab pendidikan anaknya, namun tugas guru di sekolah adalah melakukan hal-hal yang orangtua tidak dapat atau tidak sempat memberikannya di rumah, yaitu memberikan pendidikan anak sebaik mungkin , agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence (MI) memberi kemungkinan kepada orangtua/guru untuk dapat mengenali kecerdasan apa saja yang dimiliki masing-masing anaknya, agar bisa menerapkan cara yang tepat dan efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan tsb di Sekolah, kemudian bisa dilanjutkan di Rumah.
- Apa itu Multiple Intelligence (MI)?
Menurut penelitian pakar pendidikan saat ini keberhasilan anak ditentukan oleh IQ hanya 20% saja, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor-faktor eksternal lain. Jadi sistem pendidikan yang lebih menekankan pada pengembangan belahan otak kiri/unsur kognitif (logika, matematika, berpikir sistematis dll), tanpa mengimbanginya dengan pengembangan belahan otak kanan (seni, musik, berpikir holistic, keterampilan berbahasa, kreativitas, imajinasi dll) tidaklah mencukupi, malah bisa membuat anak stres.
Dengan teori MI nya Gardner menekankan, bahwa kecerdasan tidak hanya berupa kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas di sekolah saja yang lebih banyak kaitannya dengan kemampuan verbal logis, melainkan kecerdasan itu adalah kumpulan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami informasi, mengumpulkan fakta dan menyampaikan pengetahuan yang didapatnya. Gardner membagi kecerdasan majemuk anak menjadi 8 kategori yaitu:
1. Kecerdasan Linguistik (kemampuan berbahasa dan merangkai kata),
2. Kecerdasan logis-matematika ( berhitung, matematika, bermain dengan
angka dll),
3. Kecerdasan visual-spasial (kemampuan berimajinasi dengan ruang dan
warna),
4. Kecerdasan musikal (kemampuan bermusik, bernyanyi ,memainkan
instrumen,dll),
5. Kecerdasan Kinestetik/Gerak Tubuh (Kemampuan berolahraga, menari,
senam dll),
6. Kecerdasan Interpersonal (Kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi dll),
7. Kecerdasan Intrapersonal (Kemampuan mengenal dan memahami diri sendiri
dll),
8. Kecerdasan Naturalis (Kemampuan menjaga lingkungan sekitar,
mengobservasi alam, Flora dan Fauna dll)
* 1. Kecerdasan Linguistik
Anak-anak yang berbakat dalam linguistik dapat distimulasi dengan mengucapkan, mendengar dan melihat kata-kata . Cara terbaik adalah melakukan tanya-jawab setiap selesai melakukan kegiatan, memperlihatkan gambar-gambar, mendengarkan kaset/rekaman dan menciptakan kesempatan untuk latihan menulis dan mencoret-coret. Dalam bermain kenalkan anak pada huruf dan angka. Bermain bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, misalnya koran dan pensil. Mintalah anak melingkari huruf A, B ....dan seterusnya pada kalimat yang ada di koran. Hal yang sama dapat dilakukan dengan angka 1, 2, 3..... dst. Pemahaman anak terhadap huruf bisa kita stimulasi dengan permainan tebak kata, misalkan dengan menyebutkan benda-benda yang berawalan A, B, C ...dst. Selain itu kita juga bisa menanyakan huruf apa yang mengawali kata „ ayam“, „bebek“, „cicak“, „domba“.....dstnya, sambil menirukan suaranya atau gerakannya.
Pada usia 4-5 tahun, anak biasanya sudah bisa menulis, berilah pensil dan kertas. Latihlah anak mengungkapkan perasaannya dengan menulis kalimat pendek: „Aku cinta mama“, „Aku sangat senang“ dll. Bila usia bertambah, misalnya 6 tahun, ajarkan anak untuk mengungkapkan keinginannya dalam beberapa kalimat pendek dan berurutan. Kecerdasan linguistik mencakup kemampuan mendeskripsikan sesuatu tidak hanya tertulis saja, melainkan juga secara lisan. Oleh karena itu ajarkan anak bisa berdiskusi, bermain peran, misalnya jadi dokter, guru dll. Dalam melakukan permainan, perdengarkan lagu-lagu dengan bermain merebut meja/kursi, misalnya atau siapa yang duluan duduk atau berdiri, sambil bertepuk tangan mengikuti irama, dll.
* 2. Kecerdasan Logis-Matematis
Permainan yang penuh strategi dan eksperimen untuk anak usia 1-5 tahun banyak dijual di pasaran, namun sebaiknya anak dikenalkan dengan benda-benda yang konkret/nyata terlebih dahulu, sebelum ke benda-benda abstrak. Karena dengan benda-benda konkret anak bisa menyentuh,meraba dan memegangnya, kemudian menjadikannya bahan percobaan:
- Mengelompokkan Benda-Benda (2-4 tahun)
Benda harus diklasifikasi dan diberi kategori mengikuti konsep logika dan matematika, contohnya sendok makan/teh dari sekelompok alat makan dan mengelompokkan permen coklat berlapis warna-warni berdasarkan warnanya atau bentuknya. Orangtua/Guru dapat mengkombinasikan permainan dengan pengenalan bilangan, melakukan pengurangan dan penjumlahan sederhana.
- Mengenalkan Lagu/Syair yang memakai Bilangan (2-4 tahun)
Berhitung juga bisa dilakukan dengan lagu atau syair berirama untuk mempelajari berbagai tema dengan muatan dasar berhitung, sambil mempergakan jari sesuai dengan bilangan yang dinyanyikan. Hal ini akan membuat anak paham tentang konsep bilangan dengan berpikir lebih abstrak.
- Mengenalkan Konsep Bilangan „0“ (2-4 Tahun)
Bila anak sudah menguasai bilangan 1-10, barulah konsep bilangan „0“ bisa diajarkan. Permainan dimulai dengan menghitung benda-benda yang dilekatkan pada papan berperekat atau bermagnet. Cobalah ambil gambar itu satu-satu, sambil menghitung sisanya. Lakukan berulang kali sampai tidak ada lagi gambar yang tersisa pada papan, bahwa yang dilihat anak pada papan adalah „0“ gambar dan perkenalkan wujud tulisan „0“ dan suruhlah anak menulisnya.
* 3. Belajar Visual-Spasial
Kemampuan visual-spasial anak dapat distimulasi dengan penggunaan gambar, visualisasi dan permainan warna. Sediakanlah alat-alat yang diperlukan seperti crayon, pensil warna,cat air, kertas, atau gabus. Biarkan anak menggambar bebas untuk mengembangkan imajinasinya atau dengan mengikuti contoh gambar. Saat anak menggambar, imajinasi dan kreativitas anak terangsang. Dengan begitu anak bisa dengan mudah mengekspresikan dirinya. Kemudian kenalkan anak dengan warna-warna dasar terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan pencampuran warna. Anak bereksperimen mencampurkan warna merah dengan putih, terciptalah warna baru yaitu merah muda. Pertama kali anak mengalami ini, dia sudah melalui satu proses kreatif yaitu membuat sesuata yang tadinya tidak ada menjadi ada.
Selain itu anak bisa diajarkan membuat prakarya, dan media yang dipakai biasanya kertas warna, sedotan, tali raffia, cat air, kapas ataupun kertas tisu. Dalam membuat prakarya, anak dituntut untuk berkreasi dan berimajinasi dengan memanipulasi kertas, cat atau bahan lainnya menjadi sesuatu. Dalam mengembangkan kecerdasan visual-spasial anak kita harus tahu tahapan-tahapannya. Misalnya anak umur 2 tahun jangan disuruh menggambar rumah, karena anak seusia ini belum bisa memegang crayon atau pensil warna dengan baik. Perkembangan motorik halusnya memang belum mencapai kematangan untuk menggambar dengan bentuk jelas. Berikan kertas bergambar yang bisa diwarnai dengan mencoret-coret, arahkan coretan vertikal atau horisontal.
* 4. Belajar Cara Kinestetik/Gerak Tubuh
Kecerdasan ini dapat distimulasi dengan menari, bermain peran, permainan dengan gerakan tangan, melompat, berlari, bermain drama, latihan-latihan olah tubuh seperti senam anak, renang, bermain tenis, sepak bola atau melakukan pantomim dll. Karena itu carilah Taman Bermain atau Taman Kanak-Kanak yang menyediakan fasilitas kolam renang misalnya atau tempat bermain yang memadai. Dalam melakukan kegiatan olah tubuh misalnya, bisa diperdengarkan musik dan gerakan anak mengikuti irama dll. Biasanya anak yang cerdas kinestetik gerakannya lincah dan tubuhnya lentur, anaknya periang, menyukai musik dan disukai lingkungannya.
* 5. Belajar dengan Cara Musikal
Menurut Gardner kecerdasan musik anak bukan seperti tanggapan orang pada umumnya merupakan bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan dapat dirangsang dan diasah sejak dini. Anak-anak diajarkan melalui irama dan melodi. Semua bisa dipelajari dengan mudah, bila hal itu dinyanyikan atau diberi aba-aba dengan ketukan menurut irama. Anak diperkenalkan dengan lagu-lagu dan ritme. Pengenalan lagu-lagu harus dilakukan secara bertahap dan sesuai usia. Mulailah dengan syair yang pendek dulu seperti „Cicak,Cicak“, „Twinkle, Twinkle“ kemudian ke syair yang lebih panjang, misalkan „Balonku“. Lakukan latihan dengan beragam ritme, cepat dan lambat secara bergantian. Kemudian bisa divariasikan dengan gerakan atau gaya misalnya dalam menyanyikan “Topi Saya Bundar” atau “Kupu-Kupu”. Setelah itu anak diajarkan menirukan bunyi instrument seperti gitar, gendang sesuai ritme lagu dll. Dengan disiplin yang tinggi dan latihan yang teratur, anak bisa menyanyi dan memainkan alat musik tertentu, misalnya piano, orgen, gitar, dll.
* 6. Melatih Kecerdasan Interpersonal
Anak-anak diajarkan berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka perlu diarahkan untuk berkomunikasi dengan oranglain dan guru dengan baik. Banyak permainan yang dapat dibuat untuk meningkatkan dukungan kelompok, penetapan aturan dan prilaku, kesempatan bertanggung-jawab, toleransi, tidak egois, menyelesaikan masalah bersama-sama. Permainan ini memerlukan kesabaran yang tinggi. Karena pada usia 2-5 tahun anak masih berada pada taraf egosentris, yaitu tertuju pada kemauannya sendiri, bukan orang lain.
* 7. Bermain Dengan Cara Intrapersonal
Dalam hal ini anak diarahkan untuk bekerja sendiri dan memilih kegiatan yang paling disukai dan mampu memahami dan mengenal dirinya sendiri. Untuk melatih kemampuan ini, kita dpat memberikan permainan-permainan dengan berbagai perasaan, misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa, bahagia dll. Sebelumnya kita harus menunjukkan dulu berbagai perasaan dan emosi tsb diatas, dan terangkanlah situasi-situasi yang menimbulkannya dan barulah anak memainkan peran sedang sedih,kesal dll. Dalam hal ini anak harus dibantu dengan memberitahu emosi apa yang dia sedang alami saat itu. Kegiatan seperti ini sangat memperkaya batin anak dan membantu anak memahami diri sendiri dulu dengan baik, sebelum dia memahami perasaan orang lain/guru dan temannya.
Kegiatan ini dapat pula dilakukan dengan menggunting dan menempel gambar-gambar yang mencerminkan minat dan deskripsi harapan, impian, keinginan, perasaan dan emosi diri..
* 8. Kecerdasan Naturalis
Belajar dengan cara naturalis dapat dilaksanakan di alam terbuka, misalnya dengan kegiatan „walking out“ di sekitar Taman Bermain/Taman Anak-Anak. Hal ini baru dapat dilaksanakan, bila lokasi sekolah terletak di perumahan yang aman, nyaman, asri, dekat danau dan bebas polusi, karena tidak dilewati kendaraan umum. Dalam melakukan jalan-jalan pagi ini anak diperkenalkan dengan alam sekitar, bisa sambil membawa kaca pembesar dan teropong, sehingga dapat mengeksplorasi dan meneliti. Di kelas dapat dilakukan tanya-jawab tentang apa saja yang dilihat atau adakan permainan tebak kata tentang binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terlihat di jalan atau membuat aquarium dengan berbagai jenis ikan dan tumbuhan laut atau mewarnai serangga seperti capung, kupu-kupu, lebah atau menggambar dan mencat gambar pelangi, pohon, daun, awan atau mengumpulkan seri perangko buah-buahan dll.
Selain 8 (delapan) kecerdasan dari Gardner, kita bisa menambahkan satu jenis kecerdasan lagi disini yaitu Kecerdasan Moral dengan melatih anak kita sbb:
- Kecerdasan Moral
Pelatihan dapat dilakukan dengan membacakan cerita-cerita yang ada pesan moralnya. Ajarkan untuk selalu taat pada aturan permainan, jangan berbohong, jangan menipu, harus jujur dan mengetahui antara yang baik dan buruk dll. Pesan moral dapat juga disampaikan dengan permainan boneka jari dan boneka tangan, membentuk cerita dengan peran ayah dan ibu dll. Hal ini juga dapat dilakukan dengan media audio-visual, perlihatkan film CD atau DVD yang mengandung pesan moral dan ajaran etika melalui tokoh-tokoh kartun atau mendengarkan cerita melalui kaset. Cerita yang dipilih harus diseusaikan dengan tema yang mau diajarkan dan usia anak.
Dengan mengetahui berbagai jenis permainan orangtua/guru dapat mengaplikasikan ajaran Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence/MI) dari Howard Gardner dalam keseharian anak. Semoga saran-saran di atas dapat membantu orangtua/guru dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan tertentu yang dimiliki anak. Karena orangtua/guru seharusnya yang paling tahu bagaimana keadaan dan kemampuan si anak. Oleh sebab itu kita harus tahu betul si anak sekarang berada pada tahap perkembangan dimana, baik perkembnagan motorik halus dan kasarnya, kognitif, emosi dan sosialnya. Kita sebaiknya menguasai pengetahuan tentang kemampuan anak usia 2, 3, 4, 5 dan 6 tahun.
Semua permainan yang kita lakukan harus disesuaikan dengan perkembangan usianya dan kemampuan yang dimilikinya. Disini perlu diingatkan kembali, bahwa orangtua/guru sangat perlu menerapkan cara yang tidak sama terhadap anak-anaknya, karena setiap anak berbeda dan „unik“. Inilah ynag disebut pendekatan secara individual. Jadi pada anak si A misalnya yang suka bercerita, berikanlah stimulasi yang lebih menekankan pada kecerdasan linguistik. Sementara pada anak si B yang kecerdasan gerak tubuh yang menonjol, berilah stimulasi dengan permainan lompat tali, engklek atau bergerak dengan irama dll. Namun pada tahap awal orangtua/guru wajib mengenalkan semua kecerdasan yang ada dan merangsangnya, sehingga bisa terlihat pada masing-masing mana dan bidang apa yang paling menonjol pada kita.
Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence (MI) memberi kemungkinan kepada orangtua/guru untuk dapat mengenali kecerdasan apa saja yang dimiliki masing-masing anaknya, agar bisa menerapkan cara yang tepat dan efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan tsb di Sekolah, kemudian bisa dilanjutkan di Rumah.
- Apa itu Multiple Intelligence (MI)?
Menurut penelitian pakar pendidikan saat ini keberhasilan anak ditentukan oleh IQ hanya 20% saja, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor-faktor eksternal lain. Jadi sistem pendidikan yang lebih menekankan pada pengembangan belahan otak kiri/unsur kognitif (logika, matematika, berpikir sistematis dll), tanpa mengimbanginya dengan pengembangan belahan otak kanan (seni, musik, berpikir holistic, keterampilan berbahasa, kreativitas, imajinasi dll) tidaklah mencukupi, malah bisa membuat anak stres.
Dengan teori MI nya Gardner menekankan, bahwa kecerdasan tidak hanya berupa kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas di sekolah saja yang lebih banyak kaitannya dengan kemampuan verbal logis, melainkan kecerdasan itu adalah kumpulan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami informasi, mengumpulkan fakta dan menyampaikan pengetahuan yang didapatnya. Gardner membagi kecerdasan majemuk anak menjadi 8 kategori yaitu:
1. Kecerdasan Linguistik (kemampuan berbahasa dan merangkai kata),
2. Kecerdasan logis-matematika ( berhitung, matematika, bermain dengan
angka dll),
3. Kecerdasan visual-spasial (kemampuan berimajinasi dengan ruang dan
warna),
4. Kecerdasan musikal (kemampuan bermusik, bernyanyi ,memainkan
instrumen,dll),
5. Kecerdasan Kinestetik/Gerak Tubuh (Kemampuan berolahraga, menari,
senam dll),
6. Kecerdasan Interpersonal (Kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi dll),
7. Kecerdasan Intrapersonal (Kemampuan mengenal dan memahami diri sendiri
dll),
8. Kecerdasan Naturalis (Kemampuan menjaga lingkungan sekitar,
mengobservasi alam, Flora dan Fauna dll)
* 1. Kecerdasan Linguistik
Anak-anak yang berbakat dalam linguistik dapat distimulasi dengan mengucapkan, mendengar dan melihat kata-kata . Cara terbaik adalah melakukan tanya-jawab setiap selesai melakukan kegiatan, memperlihatkan gambar-gambar, mendengarkan kaset/rekaman dan menciptakan kesempatan untuk latihan menulis dan mencoret-coret. Dalam bermain kenalkan anak pada huruf dan angka. Bermain bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, misalnya koran dan pensil. Mintalah anak melingkari huruf A, B ....dan seterusnya pada kalimat yang ada di koran. Hal yang sama dapat dilakukan dengan angka 1, 2, 3..... dst. Pemahaman anak terhadap huruf bisa kita stimulasi dengan permainan tebak kata, misalkan dengan menyebutkan benda-benda yang berawalan A, B, C ...dst. Selain itu kita juga bisa menanyakan huruf apa yang mengawali kata „ ayam“, „bebek“, „cicak“, „domba“.....dstnya, sambil menirukan suaranya atau gerakannya.
Pada usia 4-5 tahun, anak biasanya sudah bisa menulis, berilah pensil dan kertas. Latihlah anak mengungkapkan perasaannya dengan menulis kalimat pendek: „Aku cinta mama“, „Aku sangat senang“ dll. Bila usia bertambah, misalnya 6 tahun, ajarkan anak untuk mengungkapkan keinginannya dalam beberapa kalimat pendek dan berurutan. Kecerdasan linguistik mencakup kemampuan mendeskripsikan sesuatu tidak hanya tertulis saja, melainkan juga secara lisan. Oleh karena itu ajarkan anak bisa berdiskusi, bermain peran, misalnya jadi dokter, guru dll. Dalam melakukan permainan, perdengarkan lagu-lagu dengan bermain merebut meja/kursi, misalnya atau siapa yang duluan duduk atau berdiri, sambil bertepuk tangan mengikuti irama, dll.
* 2. Kecerdasan Logis-Matematis
Permainan yang penuh strategi dan eksperimen untuk anak usia 1-5 tahun banyak dijual di pasaran, namun sebaiknya anak dikenalkan dengan benda-benda yang konkret/nyata terlebih dahulu, sebelum ke benda-benda abstrak. Karena dengan benda-benda konkret anak bisa menyentuh,meraba dan memegangnya, kemudian menjadikannya bahan percobaan:
- Mengelompokkan Benda-Benda (2-4 tahun)
Benda harus diklasifikasi dan diberi kategori mengikuti konsep logika dan matematika, contohnya sendok makan/teh dari sekelompok alat makan dan mengelompokkan permen coklat berlapis warna-warni berdasarkan warnanya atau bentuknya. Orangtua/Guru dapat mengkombinasikan permainan dengan pengenalan bilangan, melakukan pengurangan dan penjumlahan sederhana.
- Mengenalkan Lagu/Syair yang memakai Bilangan (2-4 tahun)
Berhitung juga bisa dilakukan dengan lagu atau syair berirama untuk mempelajari berbagai tema dengan muatan dasar berhitung, sambil mempergakan jari sesuai dengan bilangan yang dinyanyikan. Hal ini akan membuat anak paham tentang konsep bilangan dengan berpikir lebih abstrak.
- Mengenalkan Konsep Bilangan „0“ (2-4 Tahun)
Bila anak sudah menguasai bilangan 1-10, barulah konsep bilangan „0“ bisa diajarkan. Permainan dimulai dengan menghitung benda-benda yang dilekatkan pada papan berperekat atau bermagnet. Cobalah ambil gambar itu satu-satu, sambil menghitung sisanya. Lakukan berulang kali sampai tidak ada lagi gambar yang tersisa pada papan, bahwa yang dilihat anak pada papan adalah „0“ gambar dan perkenalkan wujud tulisan „0“ dan suruhlah anak menulisnya.
* 3. Belajar Visual-Spasial
Kemampuan visual-spasial anak dapat distimulasi dengan penggunaan gambar, visualisasi dan permainan warna. Sediakanlah alat-alat yang diperlukan seperti crayon, pensil warna,cat air, kertas, atau gabus. Biarkan anak menggambar bebas untuk mengembangkan imajinasinya atau dengan mengikuti contoh gambar. Saat anak menggambar, imajinasi dan kreativitas anak terangsang. Dengan begitu anak bisa dengan mudah mengekspresikan dirinya. Kemudian kenalkan anak dengan warna-warna dasar terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan pencampuran warna. Anak bereksperimen mencampurkan warna merah dengan putih, terciptalah warna baru yaitu merah muda. Pertama kali anak mengalami ini, dia sudah melalui satu proses kreatif yaitu membuat sesuata yang tadinya tidak ada menjadi ada.
Selain itu anak bisa diajarkan membuat prakarya, dan media yang dipakai biasanya kertas warna, sedotan, tali raffia, cat air, kapas ataupun kertas tisu. Dalam membuat prakarya, anak dituntut untuk berkreasi dan berimajinasi dengan memanipulasi kertas, cat atau bahan lainnya menjadi sesuatu. Dalam mengembangkan kecerdasan visual-spasial anak kita harus tahu tahapan-tahapannya. Misalnya anak umur 2 tahun jangan disuruh menggambar rumah, karena anak seusia ini belum bisa memegang crayon atau pensil warna dengan baik. Perkembangan motorik halusnya memang belum mencapai kematangan untuk menggambar dengan bentuk jelas. Berikan kertas bergambar yang bisa diwarnai dengan mencoret-coret, arahkan coretan vertikal atau horisontal.
* 4. Belajar Cara Kinestetik/Gerak Tubuh
Kecerdasan ini dapat distimulasi dengan menari, bermain peran, permainan dengan gerakan tangan, melompat, berlari, bermain drama, latihan-latihan olah tubuh seperti senam anak, renang, bermain tenis, sepak bola atau melakukan pantomim dll. Karena itu carilah Taman Bermain atau Taman Kanak-Kanak yang menyediakan fasilitas kolam renang misalnya atau tempat bermain yang memadai. Dalam melakukan kegiatan olah tubuh misalnya, bisa diperdengarkan musik dan gerakan anak mengikuti irama dll. Biasanya anak yang cerdas kinestetik gerakannya lincah dan tubuhnya lentur, anaknya periang, menyukai musik dan disukai lingkungannya.
* 5. Belajar dengan Cara Musikal
Menurut Gardner kecerdasan musik anak bukan seperti tanggapan orang pada umumnya merupakan bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan dapat dirangsang dan diasah sejak dini. Anak-anak diajarkan melalui irama dan melodi. Semua bisa dipelajari dengan mudah, bila hal itu dinyanyikan atau diberi aba-aba dengan ketukan menurut irama. Anak diperkenalkan dengan lagu-lagu dan ritme. Pengenalan lagu-lagu harus dilakukan secara bertahap dan sesuai usia. Mulailah dengan syair yang pendek dulu seperti „Cicak,Cicak“, „Twinkle, Twinkle“ kemudian ke syair yang lebih panjang, misalkan „Balonku“. Lakukan latihan dengan beragam ritme, cepat dan lambat secara bergantian. Kemudian bisa divariasikan dengan gerakan atau gaya misalnya dalam menyanyikan “Topi Saya Bundar” atau “Kupu-Kupu”. Setelah itu anak diajarkan menirukan bunyi instrument seperti gitar, gendang sesuai ritme lagu dll. Dengan disiplin yang tinggi dan latihan yang teratur, anak bisa menyanyi dan memainkan alat musik tertentu, misalnya piano, orgen, gitar, dll.
* 6. Melatih Kecerdasan Interpersonal
Anak-anak diajarkan berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka perlu diarahkan untuk berkomunikasi dengan oranglain dan guru dengan baik. Banyak permainan yang dapat dibuat untuk meningkatkan dukungan kelompok, penetapan aturan dan prilaku, kesempatan bertanggung-jawab, toleransi, tidak egois, menyelesaikan masalah bersama-sama. Permainan ini memerlukan kesabaran yang tinggi. Karena pada usia 2-5 tahun anak masih berada pada taraf egosentris, yaitu tertuju pada kemauannya sendiri, bukan orang lain.
* 7. Bermain Dengan Cara Intrapersonal
Dalam hal ini anak diarahkan untuk bekerja sendiri dan memilih kegiatan yang paling disukai dan mampu memahami dan mengenal dirinya sendiri. Untuk melatih kemampuan ini, kita dpat memberikan permainan-permainan dengan berbagai perasaan, misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa, bahagia dll. Sebelumnya kita harus menunjukkan dulu berbagai perasaan dan emosi tsb diatas, dan terangkanlah situasi-situasi yang menimbulkannya dan barulah anak memainkan peran sedang sedih,kesal dll. Dalam hal ini anak harus dibantu dengan memberitahu emosi apa yang dia sedang alami saat itu. Kegiatan seperti ini sangat memperkaya batin anak dan membantu anak memahami diri sendiri dulu dengan baik, sebelum dia memahami perasaan orang lain/guru dan temannya.
Kegiatan ini dapat pula dilakukan dengan menggunting dan menempel gambar-gambar yang mencerminkan minat dan deskripsi harapan, impian, keinginan, perasaan dan emosi diri..
* 8. Kecerdasan Naturalis
Belajar dengan cara naturalis dapat dilaksanakan di alam terbuka, misalnya dengan kegiatan „walking out“ di sekitar Taman Bermain/Taman Anak-Anak. Hal ini baru dapat dilaksanakan, bila lokasi sekolah terletak di perumahan yang aman, nyaman, asri, dekat danau dan bebas polusi, karena tidak dilewati kendaraan umum. Dalam melakukan jalan-jalan pagi ini anak diperkenalkan dengan alam sekitar, bisa sambil membawa kaca pembesar dan teropong, sehingga dapat mengeksplorasi dan meneliti. Di kelas dapat dilakukan tanya-jawab tentang apa saja yang dilihat atau adakan permainan tebak kata tentang binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terlihat di jalan atau membuat aquarium dengan berbagai jenis ikan dan tumbuhan laut atau mewarnai serangga seperti capung, kupu-kupu, lebah atau menggambar dan mencat gambar pelangi, pohon, daun, awan atau mengumpulkan seri perangko buah-buahan dll.
Selain 8 (delapan) kecerdasan dari Gardner, kita bisa menambahkan satu jenis kecerdasan lagi disini yaitu Kecerdasan Moral dengan melatih anak kita sbb:
- Kecerdasan Moral
Pelatihan dapat dilakukan dengan membacakan cerita-cerita yang ada pesan moralnya. Ajarkan untuk selalu taat pada aturan permainan, jangan berbohong, jangan menipu, harus jujur dan mengetahui antara yang baik dan buruk dll. Pesan moral dapat juga disampaikan dengan permainan boneka jari dan boneka tangan, membentuk cerita dengan peran ayah dan ibu dll. Hal ini juga dapat dilakukan dengan media audio-visual, perlihatkan film CD atau DVD yang mengandung pesan moral dan ajaran etika melalui tokoh-tokoh kartun atau mendengarkan cerita melalui kaset. Cerita yang dipilih harus diseusaikan dengan tema yang mau diajarkan dan usia anak.
Dengan mengetahui berbagai jenis permainan orangtua/guru dapat mengaplikasikan ajaran Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence/MI) dari Howard Gardner dalam keseharian anak. Semoga saran-saran di atas dapat membantu orangtua/guru dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan tertentu yang dimiliki anak. Karena orangtua/guru seharusnya yang paling tahu bagaimana keadaan dan kemampuan si anak. Oleh sebab itu kita harus tahu betul si anak sekarang berada pada tahap perkembangan dimana, baik perkembnagan motorik halus dan kasarnya, kognitif, emosi dan sosialnya. Kita sebaiknya menguasai pengetahuan tentang kemampuan anak usia 2, 3, 4, 5 dan 6 tahun.
Semua permainan yang kita lakukan harus disesuaikan dengan perkembangan usianya dan kemampuan yang dimilikinya. Disini perlu diingatkan kembali, bahwa orangtua/guru sangat perlu menerapkan cara yang tidak sama terhadap anak-anaknya, karena setiap anak berbeda dan „unik“. Inilah ynag disebut pendekatan secara individual. Jadi pada anak si A misalnya yang suka bercerita, berikanlah stimulasi yang lebih menekankan pada kecerdasan linguistik. Sementara pada anak si B yang kecerdasan gerak tubuh yang menonjol, berilah stimulasi dengan permainan lompat tali, engklek atau bergerak dengan irama dll. Namun pada tahap awal orangtua/guru wajib mengenalkan semua kecerdasan yang ada dan merangsangnya, sehingga bisa terlihat pada masing-masing mana dan bidang apa yang paling menonjol pada kita.
Selasa, 02 Maret 2010
Kejadian hari ini yang menimpa saya
Hari Rabu 03 Maret 2010 saya seperti biasanya berangkat ke sekolah. Di tengah perjalanan saya bersama teman-teman bercerita pengalaman yang menggembirakan.
Sesamapainya di sekolah saya belajar , tapi saya meminta izin pada guru untuk keluar sebentar soalnya saya mau minta surat keterangan kelakuan baik dan surat pengantar dari kepala sekolah untuk memenuhi persyaratan masuk ke SMA Negeri 2 TASIKMALAYA.
Sesudah itu bel istirahat pun berbunyi saya dan teman-teman seperti biasa jajan ke kantin. Kita makan bersama ..
Akhirnya bel berbunyi lagi tanda masuk pelajaran TIK .
:)
Sesamapainya di sekolah saya belajar , tapi saya meminta izin pada guru untuk keluar sebentar soalnya saya mau minta surat keterangan kelakuan baik dan surat pengantar dari kepala sekolah untuk memenuhi persyaratan masuk ke SMA Negeri 2 TASIKMALAYA.
Sesudah itu bel istirahat pun berbunyi saya dan teman-teman seperti biasa jajan ke kantin. Kita makan bersama ..
Akhirnya bel berbunyi lagi tanda masuk pelajaran TIK .
:)
Langganan:
Komentar (Atom)
